Karena menulis seperti naik sepeda. Tak perlu bakat, melainkan latihan yang tekun dan terus menerus.
Rabu, 15 Mei 2013
Setelah Baca Novel Ini
Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita?
Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya?
Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?
Inilah kisah tentang seorang anak yang dibesarkan dengan dongeng-dongeng kesederhanaan hidup. Kesederhanaan yang justru membuat ia membenci ayahnya sendiri. Inilah kisah tentang hakikat kebahagiaan sejati. Jika kalian tidak menemukan rumus itu di novel ini, tidak ada lagi cara terbaik untuk menjelaskannya.
Mulailah membaca novel ini dengan hati lapang, dan saat tiba di halaman terakhir, berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya.
Dan novel ini sukses buat gue nangis sejadi jadinya. Memang benar untuk membaca novel ini harus dengan hati lapang. Buktinya beberapa hari yang lalu gue bisa ngabisin 1 novel sehari semalam. Dan itu juga belum masuk hitungan 24 jam. Namun untuk novel yang satu ini, gue bacanya pas hati gue bener – bener lapang. Karena kata – kata dalam novel ini langsung ngena banget dihati. Dan itu membuat gue mengenang semua waktu bersama Bapak gue. Karena hampir 2 tahun terakhir ini gue ga ngliat wajah bapak gue. Dan itu karena gue berada jauh dari dia. Terahir kali gue ngliat bapak itu tanggal 10 Maret 2012. Waktu itu bapak berangkat ke Cilacap. Dia kerja disana dan 3 bulan kemudian waktu aku sudah menginjak bumi gudeg ini, bapak sudah berada di NTT. Jujur waktu nulis ini aku ga sanggup untuk nahan airmata ini.
BAPAK,,,,,
Aku kangeennnnn..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


terharuu membaca tulisan ini :(
BalasHapussemoga menjadi anak kebanggaan Ayah dan Emak
:)
Hapusamiinn,,, mkasi doanya kak :D
*ini tulisan mlah kena komen :D, jdi malu aku :D